Tampilkan postingan dengan label Curhatan Kiki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhatan Kiki. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Juni 2016

Tolonglah Saudaramu, Allah Pasti Menolongmu



Allahu Akbar. Rasa tolong menolong sesama pengendara motor yang sangat luar biasa..

Saya baru merasakan hal ini kemarin.
Kemarin pagi, Sabtu (4/6/16), di jalanan sebelum lampu merah pasaraya manggarai, saya mendengar bunyi yang keras sekali. Saya kira itu bunyi truk yg lewat di sebelah saya, tapi ketika truk sudah menjauh bunyinya masih terdengar keras. Saya baru sadar bunyi keras itu adalah bunyi motor saya saat motor saya perlahan berhenti dan akhirnya berhenti sempurna.

Saya panik. Gas masih menyala, bensin masih full, tapi ban motor tak ada yg mau bergerak. Sekeras apapun saya menarik gas motor, sia-sia, yg ada hanya bunyi gas motor yang meraung-raung lemah.

Saya memasang sen kiri di depan marka P dicoret. Saya tau itu tidak boleh tapi saya teruskan saja, saya harus menghubungi saudara di rumah. Semua orang di rumah yang saya hubungi tidak merespon. Bbm ceklis 1,  telpon mati semua. Akhirnya saya mendorong motor saya, mendorong ke depan, dimana saya tidak akan menjumpai bengkel sejauh manapun saya mendorong ke jalan yang biasa saya lalui.

Saya terus mendorong motor di sisi motor dan mobil yang saling berebutan jalan dan mereka sesekali mengklakson saya karena mendorong motor dengan lemah dan menutupi jalan mereka. Saya terus mendorong sampai tangan saya mulai melemah, sambil berdoa pada Allah agar Ia memberikan pertolongan pada saya. Saya yakin akan hal itu.

Beberapa lama kemudian ada bapak sekitar usia 35an yang memanggil saya dari belakang, "Mba, mba motornya kenapa? Ke depan, Mbak pinggirin". Bapak itu menstandar diri kan motor saya, mengecek bensin, lalu mencoba menggas sekuat tenaga tapi ban motor saya tidak kunjung berputar.

"Wah mbak ini kayaknya penbelnya putus nih. Ke bengkel ini harusnya. Bengkel dimana ya. Hmm. Jauh. Ada disana di deket tempat kerja saya. Mbak bisa kan naik motor Nanti motornya saya dorong dari belakang pake kaki"

Akhirnya Bapak Penolong itu mendorong motor saya. Dengan bahasa slang yang saya kenal dengan 'stut'.

Saya belum pernah didorong seperti ini. Banyak hal lucu dan bodoh yang saya lakukan selama motor saya didorong oleh bapak itu. Saya tidak bisa mengarahkan motor saya lah, belok kanan kiri sesuka hati sampai mau tertabrak lah, sehingga membuat bapak itu geleng-geleng dan kesal mungkin karena ke-telmi-an dan ke-oon-an saya.

Bapak penolong sangat luar biasa. Ia harus sering berpindah posisi di kanan kiri saya untuk mendorong. Saya tau bapak itu lelah sekali karena jalanan untuk menemui bengkel yang sudah buka pukul setengah 8 itu jauh sekali. Mungkin sejauh 2 km lebih aksi dorong-dorongan itu. Hingga akhirnya kami bertemu bengkel yang sudah buka. Dan bapak itu dengan sigapnya memberitahu kondisi motor saya dan mengingatkan saya agar menelepon saudara di rumah sebelum bapak itu pamit pergi ke tempat kerjanya. Bapak itu terlihat tergesa-gesa karena mungkin ia sudah sangat telat ke tempat kerja karena membantu saya yang menghabiskan waktu hampir 30 menit lamanya.

Lalu abang bengkelnya membuka motor saya, dan memberitahu bahwa penbelnya alias rantai karet motor saya putus dan harus diganti. Ia memberitahu harga penbel original 130rb. Saya panik karena tadi pagi saya iseng sekali mengeluarkan uang dari dompet sehingga uang hanya tersisa 60rb di dompet saya.

Saya menelpon orang rumah untuk mengirimkan uang tapi respon mereka begitu lama. Akhirnya saya jujur ke abang bengkel kalau saya hanya punya uang 60rb. Abang bengkelnya iba, akhirnya ia mencarikan penbel bekas dan memasangnya pada motor saya dengan harga 60rb yang abangnya dan adik saya akui itu adalah harga 'menolong' karena seharusnya harganya tidak semurah itu.. Akhirnya motor saya bisa menyala dengan ban yang bisa berputar. Rasanya saya ingin langsung menangis tapi saya tahan karena banyak orang di bengkel itu. Mereka mungkin kasihan pada saya karena sejak saya datang, muka saya memerah, cemas dan sedih karena ingin menangis..Setelah berterima kasih pada abangnya, saya pamit pergi.

Langsung saya menutup helm saya yang berwarna hitam dan menangis sejadi-jadinya. Saya menangis bukan karena sedih motor mogok dalam keadaan sedang sendiri dan tak membawa uang. Saya menangis karena saya tak kuasa memikirkan Maha Pengasihnya Allah pada diri saya.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Ia memberimu pertolongan dalam ujian yang ia berikan. Ia menggerakkan hati Bapak Penolong itu untuk membantumu. Membantu orang yang tak bapak itu kenal. Mengorbankan tenaga dan waktu meski ia tahu yang akan ia dapatkan di akhir hanya kata 'terima kasih', bukan uang lima puluh ribuan bahkan uang berwarna merah terang. Membantu tanpa pamrih. Membantu dengan ikhlas. Membantu saudaranya yang kesusahan. Ya Allah, saya sedih karena saya sendiri masih enggan menolong orang. Saat melihat orang yang kesusahan saya masih belum peka membantu sedang engkau masih sedia membawakan bala bantuan melalui Bapak Penolong itu. Saya hanya bisa mendoakan Bapak penolong itu agar Allah membalasnya dengan kebaikan yang paling baik di dunia dan di akhirat. Berikan bapak itu pahala yang engkau ridhoi karena mengamalkan perintah-Mu tentang ta'awun, tolong menolong, Ya Allah.. Semoga bapak itu selalu dalam penjagaan-Mu dalam setiap langkahnya, Ya Allah.. Aamiin..

Hikmah yang bisa saya petik dari kejadian luar biasa kemarin:
  1. Tolonglah saudaramu, maka Allah akan menolongmu
  2. Sesungguhnya setiap kesulitan ada kemudahan. Maka bersabarlah. Sesungguhnya Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuanmu.
  3. Sesungguhnya kebaikan sebesar biji zarrahpun akan Allah perhitungkan. Maka mengapa harus enggan membantu dalam kebaikan?
  4. Kita tidak tahu amalan atau perbuatan apakah yang dapat menghantarkan kita pada syurga. Maka berlakubaiklah. Siapa tau doa orang yang sedang Allah uji dapat menghantarkanmu pada syurga-Nya.
  5. Hidup ini bukan segalanya untuk diri sendiri. Korbankanlah kepentingan diri bila kepentingan orang lain lebih penting dari kepentingamu. Jangan egois.
  6. Senantiasa mengingat Allah dalam setiap langkah agar apapun yang terjadi pada kita senantiasa berada dalam naungan-Nya.

"Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan"
Insya Allah sehabis Allah mengingatkan saya untuk peka pada lingkungan dan hikmah tolong-menolong, saya akan berusaha meringkankan tangan, kaki, lisan dan seluruh anggota tubuh dan semua yang saya punya untuk menolong orang lain. Menolong saudara yang kesusahan. Menolong mereka yang butuh bantuan..
Allahu Akbar!

Senin, 18 Januari 2016

Random Post (Seneng-Galau)



Seneng deh, seneng punya rumah dimana gue gak kegerahan karena ada kipas angin, seneng punya kasur dan bantal yang bisa gue elus-elus sebelum tidur, seneng punya handphone yang bisa dipake buat online, chatting, searching, download aplikasi, baca ebook, denger lagu, nonton film walaupun layarnya cuma 4 inchi dan baterainya cuma tahan 4 jam kalau dipake nonstop, seneng punya notebook yang bisa dipake nonton film, ngetik tugas, ngetik curhatan ga jelas, posting blog, buka ebook, simpen dokumen-dokumen, tempat nyaman buat mengetik curahan hati saat sepi, seneng bisa ngelakuin apa yang pengen gue lakuin, seneng bisa ngapain aja di rumah ini sesuka hati.

                Males-malesan dengan hal-hal menyenangkan di atas emang enak. Yap itulah zona nyaman gue. Sibuk sendiri sama hal yang gue sukai.

Gue Kiki. Cewek biasa aja. Suka nyanyi. Kalo abis denger gue bilang suka nyanyi pasti pada nanya kalo suara gue bagus. Nggak, suara gue standar aja. Ya pernah 3 kali nyanyi di depan orang banyak. Ya gitu sering degdegan sama sering fals.

Btw gue itu introvert. Ya gue tau lo pasti ilfeel pas gue mengutarakan ini. Tapi asli ya gue itu dari kecil ya emang kayak gini, nyaman kayak gini ya that’s why sampe kepala dua gini gue orangnya rada autis yang dalam artian suka sibuk sama diri gue sendiri.

Gak tau sih, gue dari kecil tuh sok pinter gitu kan hobinya belajar, ya lo tau sendiri kebanyakan orang yang rajin belajar itu suka menyendiri belajarnya pengen menguasai semua ilmu yang dipelajarinya makanya lebih banyak pake waktu buat menyendiri, belajar menyendiri. Ya gitu deh kebiasaan sok pinter, pengen dapet 100 pas ujian makanya gue habisin kebanyakan waktu gue buat belajar, sendirian.

Ya pasti lo pikir hal yang gue lakuin selama ini gak guna karena ilmu yang gue embat sendiri itu gak guna kalo cuma dipake buat dapet nilai sempurna di ujian tapi abis itu ilang aja kayak hembusan dan ga guna apa-apa bagi orang lain.

Of course, lo betul. Gue juga baru sadar akhir-akhir ini. Gue telat banget kalo gue baru sampai pada taraf berpikir ini. Taraf berpikir bahwa belajar itu kadang ya emang cuma sebuah rutinitas aja. Kosong bro. Kayak apa ya, kayak ya kadang llo pikir belajar itu useless tapi kadang lo harus percaya kalo gada sesuatu yang useless. Oke gue mulai ngaco.

Ya jadi gini, gue ini lagi stress, bisa dibilang gitu. Kenapa? Ya seperti dijelaskan di atas, gue tumbuh menjadi anak yang belaga pinter yang pengennya ranking 1 dan dapet piala pas pembagian raport naik kelas. Tapi tiba-tiba di dunia kuliah ini gue merasa oon dan useless. Yang paling parah ya semester ini saat yang gue pelajarin itu useless semua ketika gue gabisa mengerjakan soal ujian. Stress iya. Terlalu dilebihkan kalo gue stress sampe-sampe gak mikirin kegiatan lain yang harusnya masih dikerjain.

Gue jadi inget omongan temen gue kalo orang ciri-cirinya kayak gue nih pasti kurang tilawah, ibadahnya lagi futur. Asik deh bahasa gue. Ya gitu emang bener sih.

Gue dari kecil diajarin agama. Dari kelas 0-12 gue sekolah di agama. Basic gue dari kecil 5 tahun ngaji di TPA. Pas SMA ikut tahfidz qur’an juz 30. Ya pokoknya gue pas zaman sekolah tiap hari tilawah deh rutin 2 lembar. Tapi pas masuk kuliah, gue berubah. Ya abis gimana ya gue tuh kayak orang hilang arah gitu. Gue pengen ikut golongan berjilbab panjan yang masya Allah solihahnya tapi gue gak bisa kayak gitu-gitu amat. Akhirnya gue labil kan, gue mau jadi muslimah yang bener tapi belum sreg sama kondisi keagamaan di kampus. Gue takut aja apa yang mereka lakukan itu beda sama apa yang gue pegang selama ini. Tapi bohong deng, emang guenya aja yang gak mau membuka hati dan membaur sama mereka. Eh tapi gue membaur kok, gue kadang hari jum’at ikut kajiannya gitu sama kadang ikut mentoring haha.

Duh disini gue keliatan gak bener banget ya? Hmm ya gitu deh. Gue kadang rindu. Rindu masa-masa dimana gue dekat sekali dengan sang maha pencipta. Rindu betapa tenangnya membaca Al-Qur’an setelah sholat maghrib. Rindu melihat ayat A-Qur’an yang seakan sangat ingin dihapal oleh diri ini. Rindu berkawan dengan orang-orang soleh dan solehah. Tapi aku dan mereka bagaikan dua kardus yang berbeda. Aku kardus kecil yang tak dihiraukan. Aku ingin bergabung dalam kumparan ikhwah solehah di dalam kardus besar sana tapi diriku bukan siapa-siapa…

Sebenarnya aku begitu mengagumi kawan-kawanku yang berparasa indah, berhati lembut, bertutur halus dan berhias anggun, aku ingin seperti mereka. Tapi yang kulihat mereka terlalu jauh dari pelupuk hingga aku hanya bisa tersenyum di depan mereka.

Ya Allah. Aku rindu. Aku ingin menjadi wanita yang baik. Solehah seperti dahulu. Bimbing aku kembali ke jalan-Mu Ya Allah. Jangan biarkan aku terlena oleh fananya dunia Ya Allah… Beri aku petunjuk.. Aku rindu pada-Mu. Aku rindu Rasul-Mu, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Allahumma Shalli Wasallim Wa Baarik ‘Alaih…

Sabtu, 19 Desember 2015

Mereka Berkumpul di Jalan



Ribuan orang bergerombol di jalan. Bukan. Orang-orang itu bukan sedang berdemo menuntut harga bbm turun. Bukan pula mengantri untuk mengambil ‘bantuan langsung tunai’. Lalu, sebenarnya apa yang mereka lakukan?

Orang-orang itu asyik dengan diri mereka sendiri. Ada yang diam. Ada yang terlihat bosan. Ada yang mulai mengerutkan dahinya. Ada yang membenarkan posisinya. Ada yang sudah tidak sabar dengan apa yang dihadapinya. Sebenarnya apa yang mereka hadapi?
Disini porsi mereka berbeda. Sesuatu itu dikuasai oleh orang dengan kepentingan berbeda. Satu orang ada yang menguasai 150 cm2, ada yang menguasai 500 cm2. Sebenarnya dimana mereka? Apa yang mereka kuasai?

Disana, secara tidak sadar mereka merusak diri mereka. Organ dalamnya tercemari. Akal sehatnya tersakiti. Perasaan dan egonya terkuati. Waktu dan daya ciptanya terlewati. Mereka tak perduli. Mereka anggap ini biasa. Mereka rasa inilah siklus kehidupan yang memang harus mereka lalui setiap hari.
Tidak pernahkah mereka bertanya dimana sebaiknya mereka berada? Apa ini, apa itu? Kenapa daku berdiam disini? Menunggu sesuatu berubah lalu dengan pelan-pelan menyeret alat yang membawaku itu ke tujuan?

Bosan. Kesal. Marah. Itu sudah biasa.
Ditemani bau khas itu. Disuguhi pemandangan memuakkan itu.

Sudahlah. Ini hanya dumelanku saja.
Ya, kadang aku berpikir. Apa hanya aku yang berlebihan menanggapi masalah ini?
Apa hal ini akan dibiarkan terus menerus?
Apa aku harus selamanya menjebak diriku pada lingkaran tak berguna itu?
Kenapa tak ada yang memberi solusi?
Kenapa semua orang acuh?
Kenapa aku marah?

Kenapa masalah kemacetan tak pernah bisa dituntaskan?????

Aku tak berharap muluk-muluk. Jika tak bisa dituntaskan, apakah bisa dikurangi saja? Bila tak bisa dikurangi, apakah boleh stagnasi saja? Jangan biarkan luka ini makin parah. Jangan biarkan kemacetan ini makin merah.

Setiap hari orang kehabisan waktunya di jalan. Durasi mereka di jalan setiap harinya selalu bertambah.

Harus apa?
Mengurung diri saja di rumah? Meninggalkan kota dengan sejuta kerumitan sarana dan prasarananya?
Membiarkan yang kaya mengambil segala hak milik yang miskin?
Membeli segala hal yang mereka mau?

Biar saja mereka di dalam kulkas berjalannya sana.
Berdiam seorang diri mengendarai alphard, jazz, avanza, jeep, dalam kemacetan Jakarta sambil menghubungi kolega untuk memutuskan berapa harga untuk menggusur rumah di kampung sebelah sana. 

Kiki. Anak yang bosan terjebak macet.
18/12/2015 21.59.

Minggu, 20 September 2015

Ruang Kosong itu (dulu) Melagu Kembali

Tulisan ini ditulis kala hati saya benar-benar tidak kuat untuk menahan apa yang ada di dalam dada. Tahun lalu. Beberapa bulan setelah menjadi mahasiswa baru. Sedikit menyedihkan kalau diingat-ingat. Yup.




“Aku tau, hadirku dalam hidupmu bagaikan tiupan angin yang menggerakkan sehelai rambutmu, tak terlihat, pun tak terasa.”

Terima kasih telah membawaku keluar dari persembunyianku dan membuat ruang kosong yang berdebu itu berlagu kembali. Meski hanya sementara, aku bahagia.

Dencit sepatu boots itu dan lagu instrumental di perapian membawaku kembali melayang pada pertemuan tadi. Kenapa sulit sekali rasanya bagiku menepikan perasaan ini. Ah. 3 tahun hati ini membeku lalu kenapa dia mencair begitu saja. Selalu seperti ini. Dan aku sudah tau akhirnya akan seperti ini. Jatuh cinta. Dan selalu memikirkannya. Alasannya adalah ini baru kali pertamanya segala hal terjadi tanpa ditebak dan tanpa dikira seperti sebuah takdir yang berjalan dan pasti akan terjadi sesuai skenario Tuhan.

Tuhan, mengapa kau hidupkan lagi perasaan ini. Cukup. Aku hanya akan terluka jika memunculkan rasa ini. Tiap jam, hari, minggu selalu tersenyum sendiri memikirkannya. Lalu tiba-tiba bersedih sendiri dan sesak sendiri saat hal aneh terjadi.

Dering sms itu. Kumohon, jangan membawaku kembali mengingatnya. Ini bukan masalah dia, kamu, atau siapapun. Ini tentang aku. Ya hanya tentangku. Serpihan peristiwa itu serasa mengiris relung hatiku.

Bisakah kau tetap dan terus pergi? Cukuplah melukis kenangan dalam jiwaku. Jangan hubungi aku lagi. Biarkan pertemuan ‘takdir’ tadi sebagai akhir pertemuan ‘takdir’ kita. Aku benci saat mengingatnya lagi. Aku berharap semua yang terbaik untukmu. Semoga kamu sukses dan bahagia. Biar aku jadikan dirimu sebagai mimpi di bawah teriknya sinar matahari di depan pintu pustikom. Kini saatnya aku bangun dari tidurku. Terima kasih.



 Nahh, kalo saya udah menulis paragraf terakhir tuh rasanya plong banget. Abis nulis itu, perasaan gundah gulana da galau saya hilang seketika. Bagi saya, thats the power of writing. Menulis meredakan hati yang galau.

Sabtu, 14 Maret 2015

Catatan Tadi Pagi: Oh Jakarta..

Dulu aku menganggap engkau asri.
Sejak aku lahir.
Tanah ditumbuhi pepohonan tinggi memberi kesan hijau pada setiap sudut kota dan kampung.
Di kampungku, masih ada kebun hijau. Dulu.
Di kampungku, masih ramai penduduk yang bergotong-royong. Dulu.
Tiba-tiba orang ber-uang datang.
Merasa uang dapat memberinya segala hal.
Ia beri iming-iming uang dalam jumlah besar agar para warga di kampungku pergi dari daerah yang ia tahu suatu hari nanti akan menjadi daerah perkotaan besar yang memiliki nilai jual tinggi untuk setiap meternya.
Kami apa.
Kami begitu senang atas berita akan digusurnya tempat tinggal kami.
Senang karena setiap meter tanah yang kami tinggali akan dihargai dengan rupiah yang bagi kami tak sedikit harganya.
Akhirnya terjadilah kesepakatan antara orang ber-uang itu dan warga di kampungku.
Perlahan-lahan beberapa rumah diratakan dengan tanah.
Rumah 2 sahabatku.
Musholla di samping rumahku.
Dan beberapa rumah lainnya.
Tapi rumahku tidak digusur.
Rumahku disisakan dengan beberapa rumah lainnya entah dengan tujuan apa.
Yang terlihat, perkampungan yang dulu padat dengan orang bercakap-cakap, kini tak seperti dulu.
Perkampungan yang dulunya tiap malam hari dipenuhi cahaya lampu-lampu dari rumah warga, kini redup. Bahkan gelap.
Kini sekadar ingin membeli sayur atau semur di RT sebelah harus melewati jalanan yang tak berpenerangan.
Yang dulu ketika aku kecil, aku tak berani melewati jalan itu pada malam hari karena takut akan ada yang mengikutiku.
Kini sudah 11 tahun setelah tragedi penggusuran yang membuatku ditinggalkan sahabatku yang entah dimana sekarang.
Pergi mengikuti orang tuanya yang selalu berpindah dan tak memberi kabar.
Sebelumnya, bekas reruntuhan rumah itu masih ada.
Kini, mereka mulai memperlihatkan keangkuhannya.
Dibatasi setiap tanah yang mereka miliki dengan seng-seng yang tak bernilai estetis itu.
Membuat pemandangan tak indah saat melewatinya.
Membuat jalan menjadi semakin sempit karena seng pembatasan itu.
Mereka mulai menutup jalan warga.
Mereka bersikukuh bahwa jalan itu adalah tanah milik mereka.
Mereka beralibi ingin membuat sebuah rumah untuk keperluan mereka.
Padahal, itu pasti taktik mereka agar kami mulai tidak betah tinggal di kampung kami dan pergi dari sini.
Kini, jalan mulai susah.
Sudah 2 jalan yang mereka tutup.
Tinggal menunggu kelanjutan gerak-gerik mereka.
Mungkin 3 tahun, 4 tahun, atau tahun-tahun berikutnya, rumahku pun akan rata dengan tanah lalu berubah menjadi apartemen menjulang tingggi seperti apartemen-apartemen yang telah mengepung perkampunganku.

Dahulu, yang kutahu jalanan dari kampungku ya hanya segitu-segitu saja.
Jalan besar dekat rumahku itu yang kutahu lancar-lancar saja.
Kini saat aku harus mengendarai motorku setiap hari ke tempat kuliahku di Jakarta Timur, akhirnya aku tahu belangnya Jakarta.
Jalanan itu, yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahku, rasanya sulit sekali memajukan motorku barang sekali gas saja.
Kukira 'Jakarta mulai menggila'.
Padahal 'Jakarta sudah lama gila'.
Gila apa?
Jalanan segitu-segitu saja.
Yang melewatinya meningkat tiap harinya.
Aku ini anak baru.
Aku dipaksa berani oleh Jakarta.
Tempat kuliahku tak begitu jauh tapi untuk menjangkaunya butuh perjuangan besar.
Karena tak ada yang mengantarku tiap hari kesana, aku harus mengendari motor milik almarhum ayahku tiap hari mundar-mandir Rawamangun- Rawasimprug.
Telat berangkat sedikit saja.
Habis riwayatku.
Bermacet-macet ria.
Pergi pagi, pulang malam.
Pergi duduk di atas motor 1 jam.
Pulang duduk di atas motor 1 jam bahkan lebih.
Rasanya ingin terbang saja melayang dengan motorku di atas mobil dan motor yang sedang berebut ruas jalan yang sempit.
Saat bau sisa pembakaran bensin menyengat indera penciumanku.
Saat knalpot mengeluarkan asap dan bunyi yang mengiung-ngiung di telingaku.
Saat motor menyerobot kesana kesini membuat jari tengah ini menarik rem tiba-tiba.
Saat lubang-lubang di jalan dan lubang di sela rel kereta api membuat motor dan tubuhku 'gedebrak-gedebruk' saat melewatinya.
Lelah dan sakit sekali.
Dan ketika ku tengok tiap mobil yang sedang bermacet ria disampingku.
Mereka sendiri.
Dalam sebuah mobil.
Mobil besar.
Yang bila dibanding dengan motor, mereka dapat dihitung sebagai 4 motor yang berjejer.
Oh pemerintah Jakarta.
Sadarlah siapa yang membuat Jakarta menggila seperti ini.
Mobil pribadi yang diisi satu orang itu.
3/4 jalan mereka pergunakan.
Motor hanya diberi 1/4 dari ruas jalan.
Bahkan ada dan banyak mobil yang begitu angkuhnya mengendarai mobilnya begitu di sisi kiri jalan hingga motor tak bisa lewat bahkan menyelip.
Mengapa malah menggembar-gemborkan mobil murah dikala semrawutnya jalanan jakarta?
Mengapa melarang motor melintas dan tak memikirkan bahwa jalan lain akan semakin menumpuk kemacetannya?
Menyuruh pengendara motor beralih ke angkutan umum massal agar tak macet?
Perbaiki dulu sistem transportasinya, Pak.
Busway begitu langka.
Bila ditunggu butuh waktu yang tak sebentar.
Sedang waktu terus mengejar-ngejar orang atas kegiatannya.
Di sisi lain tak banyak pengendara motor yang memiliki akses yang mudah untuk menjangkau lokasi adanya transportasi massal itu.
Banyak yang musti diperhitungkan sehingga para pengendara motor rela berpanas-panasan, berdingin-dinginan dan bermacet-macetan di jalan.
Akhir kata.
Jakarta, takkan berubah segitu cepatnya.
Bila ingin Jakarta lengang, tunggu saja lebaran yang hanya sekali dalam setahun.
Terobos saja banjir yang menggenang itu.
Atur waktu dengan baik.
Sadar diri bahwa berangkat pagi sebelum macet itu lebih baik daripada mempersulit diri bermacet-macetan.
Dan bila macet selalu menyertai setiap perjalanan pergi dan pulangmu.
Ingatlah, Allah pasti sedang menguji kesabaranmu.
Allah sedang melihat seberapa ikhlas niatmu untuk menuntut ilmu.
Semua tercermin dari seberapa berat dan seberapa jauhnya jalan yang harus kau tempuh.
Jangan lupa, setiap langkah maupun roda yang menggelinding dalam tujuan menuntut ilmu karena Allah Ta'ala adalah bernilai pahala.
Jika kita ikhlas berniat 'Lillahi Ta'ala'.

Kiki Rizkiyah.

ESSAY PENGAJAR SBMPTN KSE UNJ

Pendidikan itu mahal. Sekolah negeri, meski sudah digratiskan biaya operasionalnya, masih merupakan beban yang sulit dipikul bagi segol...